Foldernusantara– Media Amerika Serikat yang beraliran pro-Trump mengeluarkan peringatan serius terkait krisis bahan bakar yang mengancam masyarakat AS. Harga bensin di dalam negeri dilaporkan telah melonjak hingga 30%, memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap ekonomi rumah tangga menjelang musim panas.
Dalam laporannya pada Rabu (25/3/2026), Fox News menyoroti kemacetan puluhan kapal tanker di Selat Hormuz sebagai penyebab utama kenaikan harga minyak global. Seorang analis stasiun tersebut menegaskan bahwa situasi ini semakin membebani warga Amerika.
“Sekali lagi, saya katakan ini bukan situasi yang baik. Puluhan kapal tanker menunggu untuk melewati Selat Hormuz, dan ini menyebabkan harga minyak naik di seluruh dunia. Israel tentu ingin harga ini turun,” ujar analis Fox News dalam segmen berita.
Kenaikan harga per galon yang mencapai 25 hingga 30 persen dinilai sangat menyakitkan bagi kelas pekerja Amerika. Meski demikian, analis tersebut menambahkan bahwa angka sebenarnya masih sekitar setengah dari prediksi awal yang sempat dibayangkan oleh sejumlah kalangan.
“Kenaikan harga bensin sebesar 25-30% per galon sangat menyakitkan bagi warga Amerika yang bekerja. Kami di sini tentu memahami hal ini. Namun, angka ini sekitar setengah dari yang diprediksi orang,” imbuhnya.
Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, di mana Selat Hormuz menjadi jalur vital pengiriman minyak dunia. Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah AS belum mengumumkan langkah-langkah darurat untuk menstabilkan harga bahan bakar.













