Berita

Bantuan MDA Hadirkan Penyulingan Nilam Pertama di Bonelemo, Permudah Petani Olah Hasil Panen

31
×

Bantuan MDA Hadirkan Penyulingan Nilam Pertama di Bonelemo, Permudah Petani Olah Hasil Panen

Sebarkan artikel ini

Foldernusantara.com,Luwu, – Kehadiran fasilitas penyulingan nilam yang dikelola Koperasi Produsen Hasil Tani Masyarakat di Desa Bonelemo, Kecamatan Bajo Barat, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, membuka harapan baru bagi petani nilam setempat.

Selain memangkas jarak pengangkutan hasil panen, fasilitas tersebut juga diharapkan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi desa.

Ketua Koperasi Produsen Hasil Tani Masyarakat, Mahfud, mengatakan fasilitas yang dibangun melalui dukungan PT Masmindo Dwi Area (MDA) itu menjadi pabrik penyulingan nilam pertama yang hadir di desanya.

“Sebelumnya petani harus membawa bahan baku nilam ke Desa Tumbubara atau Sampeang untuk disuling. Sekarang sudah ada di Bonelemo sehingga lebih dekat dan memudahkan petani,” jelasnya, Senin (8/6/2026) siang.

Menurutnya, jarak yang sebelumnya harus ditempuh petani menuju lokasi penyulingan sekitar 7 kilometer.

Dengan hadirnya fasilitas di Dusun Baloa, biaya dan waktu yang dikeluarkan petani untuk proses pengolahan dapat ditekan.

Fasilitas penyulingan tersebut memiliki tiga unit ketel dengan kapasitas masing-masing 500 kilogram bahan baku nilam dalam sekali proses.

Dengan kapasitas itu, total bahan baku yang dapat diolah dalam satu siklus penyulingan mencapai lebih dari satu ton.

“Kalau satu ketel kapasitasnya 500 kilogram dan di sini ada tiga ketel, berarti bisa lebih dari satu ton dalam sekali produksi,” ujarnya.

Proses penyulingan berlangsung selama 16 hingga 18 jam atau lebih, tergantung kondisi bahan baku.
Dari setiap ketel, rata-rata dihasilkan sekitar lima kilogram minyak nilam.

Mahfud menambahkan, operasional penyulingan dikelola koperasi dengan melibatkan tenaga khusus untuk proses memasak dan pembongkaran bahan baku. Biaya penyulingan dipatok sebesar Rp1 juta per proses.

“Biaya itu untuk petugas penyulingan, kayu bakar, dan sebagian menjadi pemasukan koperasi untuk mendukung operasional,” akunya.

Menariknya, fasilitas penyulingan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi anggota koperasi.

Petani yang belum bergabung juga diberi kesempatan memanfaatkan layanan penyulingan sebagai bagian dari upaya memperluas kemitraan usaha.

“Kami terbuka untuk semua petani. Justru mereka yang menggunakan fasilitas ini nantinya bisa menjadi calon-calon mitra dan anggota koperasi,” katanya.

Saat ini koperasi memiliki enam orang pengurus dan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk memperkuat kelembagaan sekaligus memperluas basis petani binaan.

Sebagai bagian dari pengembangan usaha nilam, koperasi bersama MDA juga tengah menyiapkan demplot dan pembibitan.

Sebanyak 24 ribu bibit nilam direncanakan ditanam untuk mendukung ketersediaan bahan baku di masa mendatang.

“Kami sedang menyiapkan demplot dan bibit. Rencananya ada sekitar 24 ribu pohon yang akan ditanam. Ini merupakan dukungan dari MDA untuk pengembangan usaha nilam masyarakat,” ujar Mahfud.

Ia menilai keberadaan fasilitas penyulingan dan program pengembangan nilam menjadi langkah strategis untuk menghidupkan koperasi sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru di desa.

Sementara itu, Plt Kepala Desa Bonelemo, Salma, menyebut fasilitas penyulingan yang berlokasi di Dusun Baloa tersebut menjadi yang pertama hadir di wilayahnya.

Menurut Salma, kehadiran unit usaha yang dikelola Koperasi Produsen Hasil Tani Masyarakat itu berpotensi memberikan dampak ekonomi yang luas bagi warga, khususnya petani nilam.

“Kami melihat keberadaan penyulingan ini bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat. Selain memudahkan petani mengolah hasil panennya, juga membuka peluang usaha baru di desa,” bebernya.

Dengan mulai beroperasinya fasilitas penyulingan pertama di Bonelemo, masyarakat kini tidak hanya berperan sebagai penghasil bahan baku, tetapi juga memiliki akses lebih dekat terhadap proses pengolahan yang memberikan nilai tambah.

Model pengembangan yang menghubungkan budidaya, pengolahan, dan kelembagaan koperasi tersebut diharapkan mampu memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *