Foldernusantara — Publik Indonesia berduka setelah seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berusia sekitar 10 tahun ditemukan meninggal dunia, dengan indikasi kuat akibat mengakhiri hidupnya sendiri. Peristiwa tragis ini bukan sekadar kabar duka keluarga; banyak pihak menilai kejadian tersebut mencerminkan persoalan kemiskinan dan ketimpangan akses pendidikan yang masih mengemuka di beberapa daerah di Indonesia.
Korban yang duduk di bangku kelas IV itu diduga merasa tertekan karena tidak mampu membeli buku dan pena—kebutuhan sekolah yang secara nominal terjangkau bagi sebagian besar masyarakat, namun menjadi beban nyata bagi keluarga miskin seperti miliknya. Peristiwa yang kemudian memicu tanggapan dari pejabat pemerintahan dan organisasi sipil ini menyentuh nurani banyak pihak dan memunculkan pertanyaan besar mengenai keadilan sosial dan perlindungan anak.
dilansir media New Indonesia,
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menyatakan bahwa peristiwa ini memperlihatkan bagaimana kemiskinan yang dipadukan dengan beban biaya pendidikan, sekecil apa pun, dapat berimplikasi dramatis. Menurutnya, tragedi ini adalah potret nyata dari masalah yang lebih luas, di mana beban pendidikan masih dirasakan oleh keluarga yang kurang mampu.
Respons juga datang dari parlemen. Ketua Komisi X DPR RI menyebut peristiwa ini sebagai “alarm keras” yang memaksa masyarakat dan pemerintah merefleksikan kembali perlindungan sosial dan pemenuhan hak anak, terutama dalam konteks pendidikan dasar.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial juga menyatakan keprihatinan mendalam dan berkomitmen memperkuat data serta pendampingan sosial agar keluarga – keluarga dalam kategori miskin ekstrem tidak terlewatkan dari bantuan, serta menekan agar tragedi serupa tidak terjadi kembali.
Kasus ini sekaligus membuka wacana lebih luas tentang bagaimana negara, masyarakat, dan sistem pendidikan perlu memperhatikan dimensi psikososial dan dukungan terhadap anak – anak rentan, agar sekolah menjadi ruang aman untuk tumbuh dan belajar, bukan sumber tekanan yang fatal. Sebab, di balik angka dan kebijakan, ada nyawa seorang anak yang telah hilang, sebuah kenyataan yang memilukan dan harus menjadi panggilan serius bagi seluruh pemangku kepentingan.
